BannerFans.com

Wednesday, 5 September 2012

Pujangga Cinta 7



Tapi resam cinta takkan meminggir cerita Pujangga
Takkan cuma bahagia tanpa derita memanggung marak api cinta
Sang Pujangga yang diseberang sana tersentak rasa
Muhasabah cintanya agar tak dibazir selain kepada kekasihnya..
..kekasih yang sebenar tercipta untuknya
Lalu dia menyembunyikan cintanya..
..buat telitian apa yang benar untuknya.

Sejujurnya Cinta tersetak kecewa
Gundah hatinya bergurindam seminggu lamanya
Dia mahu memagari ranting kalbunya
Tapi cinta sudah sebati dengan bait puisi Pujangga yang di seberang sana
Apakah bidadari tak sudi lagi menjadi tahtanya
Dia menahan rasa hiba.

Pujangga terksima dengan kaburnya cinta yang dia buru
cinta yang kelabu..
..kini sudah membiru
Sebiru hatinya yang sedia sayu
Dia melepaskan cinta dari jiwa raga dan puisinya
Buat mengelambu rasa cinta yang tersisa
Biar terpelihara yang selebihnya buat pujangga yang dia cinta setelah mereka bersua
Dia bimbang..langkahnya penuh dengan leka
Dia tak mahu suci cintanya jadi ternoda
Lalu dia pasrahkan saja
Melepaskan apa yang membuatnya lega

Pujangga benar dalam mentafsirkan gundahnya
Bagi Cinta..itu bukan canda yang menglipur prasangka
Tak perlu berwasangka dengan rasa
Dia dan Pujangga punya hak menentukan nasib cinta mereka
Yang diangap agung, yang perlu dipelihara sebagai mihrab terbahagia
Yang perlu disedia..untuk dibiaya hanya untuk kekasih halal mereka berdua
Setelah akad diterima Yang Esa
Setelah Cinta bertemu pujangganya
Setelah Pujangga berjaya memiliki cintanya

Kerana percayalah
Sehaus mana nafas yang merindukan cinta..
..cinta itu tetap ada..
Cinta itu selamanya milik pujangga
Dan Pujangga tak dilahirkan tanpa cinta untuk mendampinginya
Itukan janji Yang Maha Esa
Setiap yang dijadikannya..telah disediakan pasangan yang sesuai dia

p/s: Kasih kita cuma abadi pabila waktu sudi berhenti..
..kerana tarikh luputnya tergantung sepenuhnya pada empunya pujangga dan juga cinta

-TAMAT-

Pujangga Cinta 6



Rayuan rahsia rasa menggoyahkan jiwa remajanya
Puisi yang dia cerita pun tak segundah gejolak dalam dadanya
Cinta harus pertahankan dia yang sedia ada
Tak mahu hatinya bersiur dari versi cinta yang dia rangka

Rayuan Pujangga makin bersuara
Enggan cintanya berakhir sebagai cinta yang sia-sia..
..dia menjanjikan ilhamnya buat sang bidadari yang dinantinya sekian lama
Yang kini senyata menyahut-nyahut lamaran cinta dari bahasa puisinya

Cinta pula masih kelirukan perasaannya
Mana yang harus dia utamakan, puisi atau perasaannya
Menurut cinta..
..yang harus dipelihara cuma udaranya saja
Dan sebenar udara buat cinta adalah penyatuan cinta dan pujangganya
yang selama ini menyembunyikan rasa dalam jiwa puisi semata-mata

Pujangga Cinta 5



Cinta semakin memalu
Sepertinya dia bercinta dengan rasa melulu
Tak mungkin pujangga di seberang sana itu wujud
Dia yang kini sudah tak seperti dulu
Keyakinannya diangkat tinggi menjauhi rasa malu
Dia tak harus berhenti membisu
Tapi dia harus berhati-hati dengan harapan yang menipu

Luahan Cinta seakan menusuk kejantung cinta Pujangga
Pujannga pula yang membuntu rasa
Apa engan yang si dia maksudkan
Ragukah Cintanya pada luahan puisi hatinya
Dia tak mampu mengusir hiba

Pujangga Cinta 4

Puisi mereka bertemu
Tapi mereka masih kurang tahu
Kurang kerana yang mereka temu cuma rasa
Belum pujangga cintanya
 
Pujangga semakin menzahiri kebiruan hatinya
Sebiru hati yang kehabisan udara
Kemana arahnya masih hauskan bahasa cinta..
..yang dia seru yang dia puja sejak sekian lama
Cinta pula seakan mengerti kekalutan jiwa pujangganya kini
Lalu dicoret sesuatu keluar dari hati
Niatnya sebatas menghiburkan resah sang kekasih
Tapi maksudnya menyirat cinta sepenuh-penuh kasih


Pujangga Cinta 3


Pujangga semakin lelah menunggu
Tapi tak berdaya untuk berhenti menunggu
Disini Cinta juga begitu
Serasa berkudis hatinya menahan rindu..
..yang semakin membuatnya tersedu sedu

Tiada siapa yang dia temu..
..tapi ada rasa yang Cinta jumpa
Rasa diseru sang Pujangga
Rasa dipanggil oleh kelibat cinta
Rasa dirinya begitu hampir dengan kekasihnya
Dengan bahagia dia menyahut seruan yang memanggil-manggil puisinya